:::

【Kisah baru di Taiwan】 “Saya memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang lain” Cheng Yaotian mengubah bahasa Indonesia menjadi keunggulan di dunia kerja

Label
TempatTaiwan
Dibaca : 35
Tanggal : 2019/7/4
Diperbarui : 2019/7/15 下午 04:05:00

鄭堯天

Cheng Yaotian berusia 29 tahun, merupakan generasi kedua imigran baru, dia pernah bekerja di perusahaan Pou Chen Indonesia, dalam waktu dekat akan memulai tantangan baru di perusahaan Foxconn Indonesia, meski belum mencapai usia 30 tahun pendapatannya telah melampaui satu juta NT dolar. Dia berujar, bisa berada di posisi sekarang ini karena adanya perasaan “rendah diri”, dari kecil pelajaran di sekolahnya tidak begitu bagus, tetapi sangat ingin berhasil, mau tidak mau harus lari keluar negeri! Oleh karena itu, dia memilih bahasa Indonesia “yang saya miliki, tetapi tidak dimiliki oleh orang lain” sebagai batu lompatan, menggapai impian untuk keluar negeri.

**Blasteran Taiwan-Indonesia, tidak menjadi penghalang hubungan antar sesama
Ayah Cheng Yaotian semasa mudanya ditugaskan untuk bekerja di Indonesia, kemudian mengenal ibunya, Chang Huifang. Saat Cheng Yaotian berusia sekitar satu tahun, semua anggota keluarga pindah ke Indonesia, kemudian mereka sekeluarga kembali tinggal di Taiwan saat ia menginjak sekolah dasar. Dia berkata, memiliki status sebagai anak perkawinan campuran Taiwan-Indonesia tidak menurunkan kualitas hubungannya dengan sesama atau membuatnya tidak nyaman; akan tetapi beberapa anak-anak dari imigran baru saat ini merasa “rendah diri” karena status tersebut, minimnya pengakuan akan identitas diri, malah akan mudah mendapatkan perlakuan perundungan dan dikucilkan.

**Pendidikan keluarga merupakan kunci energi positif
Memakai pakaian batik, Cheng Yaotian memegang mikrofon dan berbicara tanpa terputus, penuh dengan semangat yang membara.
Cheng Yaotian menceritakan bahwa pendidikan keluarga itu adalah kunci utama, bila orang tua memberikan pendidikan keluarga dan energi yang positif, maka anak-anak tidak akan merasa bahwa dia itu berbeda dengan orang lain. Oleh karena ibunya adalah seorang yang percaya diri, murah hati, membuatnya tidak merasa rendah diri

Setelah lulus dari Universitas Tzu Chi jurusan pekerjaan sosial, Cheng Yaotian bekerja di Taiwan selama dua tahun, dia ingin mencari pekerjaan baru di luar negeri, pabrik sepatu terbesar di dunia Pou Chen melihat dia bisa berbicara bahasa Indonesia, memohon wawancara yang dilakukan melalui video call. Saat itu, dia telah lebih dari 10 tahun tidak pernah berbicara bahasa Indonesia lagi, dia pun memohon bantuan sang ibu dengan segera. Chang Huifang menuliskan sebuah naskah perkenalan diri dalam bahasa Indonesia, dia menempelkan naskah tersebut di depan layar dan membacanya kata per kata, membuat pewawancara yang berada di depan komputer di lokasi yang lain itu “percaya”, dan dia berhasil diterima bekerja di perusahaan tersebut.

**Keragaman bahasa, CV-nya pun terpilih
Terhadap imigran baru generasi kedua yang masih bersekolah di SMA maupun di jenjang universitas, dia mengatakan, belajar bahasa ibu dengan baik sejak kecil, “Saya dulu hanya bisa menyontek, kalian bisa bergantung pada materi yang asli”, di dalam daftar riwayat hidupnya (CV) tertera kelebihan sebuah bahasa asing yang tidak dimiliki oleh orang lain, CV tersebut akan “terpilih” dari ratusan, bahkan ribuan CV yang ada, kesempatan yang dimiliki pun juga lebih banyak dari orang-orang yang tak terpilih itu. Setelah bergabung dengan perusahaan Pou Chen Indonesia, dia mendengar karyawan dari Tiongkok di tingkat manajemen yang tidak mengerti bahasa Indonesia, ucapan makian pun keluar dari mulut mereka, hubungan dengan karyawan lokal memburuk. Cheng Yaotian terus melatih kemampuannya berbahasa Indonesia, memenangkan hati karyawan dengan bergantung pada komunikasi yang baik, dia pun memberikan kursus bahasa Indonesia kepada karyawan dari Taiwan dan Tiongkok. Cheng Yaotian mengungkapkan, sejak masa kecilnya dia tidak bersekolah di sekolah favorit, dia berada di urutan ketiga paling akhir di kelasnya, dia memutuskan untuk menggunakan keunggulan bahasa yang dimilikinya, melebarkan sayap ke seberang lautan. Melihat pengalaman atas keberhasilan kakaknya tersebut, Cheng Yaofang juga berharap bisa meniti karir di Indonesia.

Cheng Yaotian memberikan saran dengan tulus, agar anak-anak generasi kedua imigran baru belajar bahasa ibu sejak kecil, seperti halnya dia yang “bisa menggali kembali dari ingatannya yang terdalam dengan mudah”, akan tetapi bila menunggu dewasa baru belajar bahasa asing yang baru, maka hal tersebut akan terasa sangat susah dan menyulitkan.

**Latar belakang ragam budaya membuatnya menjadi pemenang di titik awal

Chang Huifang mengungkapkan, anak-anak berbicara dengan kakek dan nenek mereka menggunakan bahasa Mandarin selama berada di Taiwan, namun dia mulai menggunakan bahasa Indonesia saat berbicara dengan ketiga anaknya sejak mereka di taman kanak-kanak, mengajarkan kata-kata mulai dari “makan, mandi, sikat gigi”; sejak mereka mulai bisa menulis, dia pun mengajar mereka menulis bahasa Indonesia. Terdapat begitu banyak keluarga imigran baru di Taiwan, ibu imigran baru pun tidak diperkenankan mengajarkan bahasa ibu. Terhadap hal tersebut, Chang Huifang sebagai seorang ibu membagikan pengalamannya, dia mengatakan, banyak keluarga yang memiliki pemikiran bahwa sebagai seorang imigran baru “bahasa Mandarin kamu saja tidak begitu bagus, bagaimana bisa mengajar anak kamu?” Tetapi dia menambahkan, anak-anak sangat cerdas, “mereka berbicara bahasa Mandarin dengan ayahnya, berbicara bahasa ibu dengan ibu mereka, berbicara bahasa Minnan dengan kakek neneknya” mereka bisa menyerapnya dengan baik, terlebih lagi tanpa perlu dipaksa untuk belajar, semuanya akan berjalan dengan lebih natural.

Berbekal ragam bahasa dan budaya, membuat Cheng Yaotian memiliki keunggulan, dengan memahami bahasa Indonesia, dia mengembangkan karirnya di Indonesia yang merupakan negara berpenduduk terbesar keempat di dunia, membuatnya menjadi pemenang sejak titik awal karirnya.

Sumber naskah: Vision Project – UDN (Reporter: Sun Zhongying, Su Weihsuan / Foto: Wang Tengyi)

Apakah informasi ini bermanfaat? Ya    Tidak