:::

【Topik Pemukiman Baru di Taiwan】Huaxin Street di Zhonghe, New Taipei City, pasar bernuansa Yunnan Myanmar, membawa kita seakan berada di negeri asing

Label
TempatTaiwan
Dibaca : 55
Tanggal : 2019/7/4
Diperbarui : 2019/7/12 下午 05:09:00

緬甸1

Kunjungan ke jalan Huaxin di wilayah Zhonghe harus dilakukan pagi-pagi. Sebelum tengah hari, warung-warung makanan otentik ala Myanmar di dalam pasar mulai tutup, ‘ba-ba-si’ (masakan bihun dengan bahan baku tepung kacang polong), ‘wan-tou-fen’ sejenis kwetiau beras kacang polong ala Myanmar yang ada di warung makanan tersebut pastinya juga mulai terjual habis.

Di Myanmar, “kedai teh” merupakan lokasi penting yang harus ada dalam kehidupan sehari-hari, kondisi ini juga ditampilkan dalam sebuah film dokumenter “Return to Burma” yang dibuat oleh seorang keturunan Myanmar Chao De-yin. Di pedesaan yang terkecil di Myanmar pun juga bisa ditemukan kedai teh, kedai teh menyediakan makanan kecil, makanan ringan, tidak hanya merupakan pusat kuliner yang lezat, namun juga merupakan lokasi pertukaran informasi dan komunikasi.

Huaxin Street merupakan tempat berkumpulnya para imigran baru yang berasal dari Myanmar, ‘budaya kedai teh’ ala Myanmar pun dimulai dari sini, meja dan kursi ditata di lorong jalan samping bangunan, banyak imigran baru Myanmar beranjak menuju ke kedai teh begitu mereka bangkit dari tidurnya, minum teh dengan santai, membaca koran, mengobrol dengan teman-teman yang mulai berdatangan, bahkan ada beberapa diantaranya yang mulai bermain catur. Buka telinga lebar-lebar dan dengarkan, percakapan dengan aksen asing itu mulai menyebar, membuat kita seakan-akan berada di negeri asing. (Referensi bacaan: Beli produk makanan ringan Korea di Zhongxing Street, nikmati kuliner asli Myanmar di Huaxin Street)

Di balik punggung setiap imigran Myanmar terdapat kisah yang mengharukan, seperti halnya yang terlihat di jalanan ini yang sulit dilukiskan dengan kata-kata, segala perasaan bercampur aduk menjadi satu. “Kuliner Myanmar” terdiri dari berbagai macam bahan, selain masakan suku aborigin, juga menggabungkan keunikan kuliner dari suku bangsa di sekitarnya, kaya akan elemen gabungan Myanmar utara dan Yunnan, orang Tionghoa Guangdong tengah dan Minnan, serta negara Bangladesh, India, dan Thailand.

緬甸2
(Masakan Terung Telur ala Thailand dan Akar Lokio)

Huaxin Road lane 30 adalah lokasi pasar tradisional, terhampar bahan baku makanan yang jarang terlihat, langkah orang-orang yang sedang berjalan di sana akan terhenti – papan-papan petai yang besar (jenis petai yang sangat disukai oleh orang Myanmar), ikatan akar lokio berwarna putih (digunakan bersama adonan ikan), terung bulat dan terung air Thailand (bahan baku kari hijau), lengkuas yang berkulit kemerahan, daun asam, abon ebi, serai, ikan teri yang dikemas dalam minyak, gorengan samosa, serta berbagai jenis gorengan lainnya, semuanya adalah masakan yang sering dijumpai di meja makan orang Myanmar.

Anda harus berani bertanya saat melihat begitu banyak bahan yang tidak begitu dikenal, tetapi sering kali saat ingin mengerti lebih jelas, pemilik toko malah memberitahu dengan menggunakan kata-kata dalam bahasa Myanmar yang membuat orang sulit untuk memahaminya, saat itu akan terasa sekali bahwa kita telah memasuki kawasan asing di kota Taipei (Referensi bacaan: Nostalgia kuliner – cita rasa kampung halaman di dalam pasar Zhongzhen, menerobos ruang waktu melalui indra perasa)

Menerobos ke gang-gang dan jalan-jalan kecil yang berada di samping kiri kanan pasar, terlihat jantung pohon pisang dengan ruas berwarna putih disajikan di atas meja, itulah “mie sup ikan” yang dijual oleh toko makanan asli Myanmar yang sedang menyapa Anda. Rasa kental yang gurih dari mie sup ikan tersebut seringkali menambahkan jantung pisang, pelepah pisang untuk dimasak bersama dengan kuahnya, dan kemudian diberi gorengan di atas masakan tersebut.

Saat waktu makan tiba, Anda bisa memulainya dengan memilih mie bihun ala Yunnan / ba-ba-si, ‘wan-tou-fen’ kwetiau beras kacang polong, nasi kari, mie kelapa, mie kuah ikan, mie dingin ala Myanmar atau Yunnan yang menggunakan lemon atau asam jawa bisa meningkatkan nafsu makan. (Referensi bacaan: Tonggang Pingtung – Kuliner tahun baru Yunnan Myanmar, masakan tahun baru yang asam dan pedas di bawah api)

Terdapat beragam jenis toko di Huaxin Street, roti panggang, martabak ala India sangat disukai oleh banyak orang. Proses pembuatan roti panggang di toko menarik perhatian banyak orang, kokinya sangat ahli dalam melempar-lempar adonan tepung, kemudian meletakkannya di atas sebongkah batu, menyiram sedikit air, kemudian melekatkan adonan tersebut ke dalam tungku panggang, tidak berapa lama kemudian, adonan roti panas yang telah matang itu mengembang dan membentuk gelembung udara, diolesi dengan sedikit mentega atau selai kacang akan terasa sangat enak, teh susu merupakan pasangan yang sangat pas.

Kue-kue Myanmar merupakan penganan manis alami yang seringkali dibuat dengan menggunakan santan, gula aren, dan beras ketan. Ada satu jenis kue gandum unik yang sangat disukai oleh orang Myanmar, diatasnya ditaburi biji poppy. Mie beras pandan yang disajikan dalam gelas plastik di Myanmar (juga diberi nama ‘udang dingin’), serta yogurt berwarna putih yang disajikan sebanyak ¾ gelas, saat membeli, masukan mie beras pandan ke dalam cairan gula, masukkan yogurt ke dalam cairan gula hitam, rasa yogurt tersebut membuat orang terpana.

緬甸3
(Burung hantu berlapis emas)

Toko-toko di Huaxin Street suka menempatkan patung burung hantu yang berlapiskan emas, mengandung arti mendapat banyak rezeki; saat cuaca cerah, di jalanan “kota Yunnan” banyak ditemui toko-toko yang mengeringkan acar di bawah sinar matahari, pemandangan ini jarang sekali dijumpai di jalanan di Taipei. Di sini juga terdapat dua toko kelontong, kita bisa menemukan barang berharga di sana, bisa menemukan burung hantu yang mendatangkan rezeki, bedak wangi yang berfungsi sebagai tabir surya, serta “cao-guo” (jenis rempah penting Myanmar) dan beragam jenis acar, bahkan bisa memakai “longyi” (sejenis sarung ala Myanmar).

緬甸4
(Acar sayur kering / Cao-guo)

 Berjalan mulai dari toko yang menjual tim jeroan sapi di samping Huaxin Street, belok dan masuklah ke dalam gang tersebut, Anda bisa menemukan toko “Bakpao A-fen”, sangat terkenal dan hanya menjual tiga jenis bakpao: bakpao daging dan sayur, bakpao tausa, serta bakpao wijen. Kulit bakpao ala Yunnan sangat halus seperti awan, saat dibelah, lapisan dalamnya terasa sangat lembut, isinya juga enak. ‘Bakpao A-fen’ sebenarnya adalah rumah tempat tinggal yang didiami oleh ibu A-fen, di pagi hari ibu A-fen seringkali terlihat sambil membuat bakpao sambil mengobrol bersama dengan pelanggan, bahasa Yunnan terus menerus terdengar di telinga. (Referensi bacaan: Keluarga Pelangi – Kuliner Yunnan di Taoyuan, cita rasa asam, manis, pahit, pedas)

緬甸5
 (Bakpao A-fen)

Untuk lebih memahami Huaxin Street, Anda bisa mengikuti kegiatan tur menarik yang diadakan bersama oleh “Jalan santai di kota Taipei” dan toko buku lokal “Perpustakaan Brilliant Time”, informasi langsung disampaikan oleh orang lokal yang tahu seluk-beluk jalanan tersebut, terasa seakan naik elevator bebas hambatan, bisa melihat langsung pemandangan dan hal menarik lainnya yang berbeda.

緬甸6
(Perpustakaan Brilliant Time)

Sumber Naskah: Smile Taiwan (Naskah dan foto: Bao Ziyi)

Apakah informasi ini bermanfaat? Ya    Tidak