:::

【Kisah baru di Taiwan】Seorang imigran baru bernama Xiao Tao: Saya adalah orang Taiwan tetapi saya juga orang Vietnam, di mana ada keluarga di situlah rumah berada

Label
Tempat臺灣
Dibaca : 65
Tanggal : 2019/5/29
Diperbarui : 2019/6/3 下午 04:15:00

小陶1

Membuka penginapan adalah hal yang sangat mendekati impianku, pada saat yang bersamaan aku mempersiapkan diri secara otodidak untuk mengikuti ujian sertifikasi sebagai tour guide / pemandu wisata atau tour leader. Bila berhasil, maka aku dapat membawa orang-orang Taiwan berwisata ke Vietnam, atau memandu orang-orang Vietnam untuk berwisata di Taiwan, membantu mereka mengenal kebudayaan dari dua negara yang berbeda, aku pun bisa menjadi lebih sering pulang ke kampung halaman di Vietnam. – Xiao Tao

Xiao Tao merupakan seorang imigran baru yang berasal dari provinsi Quảng Ninh, Vietnam utara, yang menikah dan datang ke Taiwan. Sejak berusia 6 tahun, dia bercocok tanam di sawah bersama dengan keluarganya. Agar bisa memperoleh uang lebih banyak lagi dan meningkatkan kehidupan keluarganya menjadi lebih baik, di usia 16 tahun dia pergi ke Hanoi untuk belajar bahasa Korea, dan berencana bekerja di Korea Selatan, akan tetapi dia malah bertemu dengan seorang pemuda Taiwan yang sedang tinggal di penginapan yang dikelola oleh bibinya. “Melihat kuku jari tangan Xiao Tao dipenuhi dengan lumpur, saya merasa dia pasti merupakan seorang gadis yang rajin.” Anak muda tersebut adalah suaminya yang sekarang. Setelah berkenalan selama dua jam, kedua orang tersebut harus berpisah, oleh karena itu dia pun meminta sebuah foto kepada Xiao Tao, sekembalinya ke Taiwan, dia pun menggaji seorang penerjemah untuk membantunya berkomunikasi, setiap minggu dia selalu menghubungi Xiao Tao selama setahun. Saat Xiao Tao berusia 19 tahun, mereka pun menikah, datang dan hidup di Taiwan.

小陶2

※Belajar bertanggung jawab dengan segera
Sebelum menikah, Xiao Tao telah mempersiapkan diri untuk belajar mengelola penginapan di Taiwan. Akan tetapi, dikarenakan penginapan penuh di hari pertama, Xiao Tao, yang masih memiliki kendala dalam hal bahasa, bangun pukul dua dini hari dan belajar dengan ibu mertuanya membuat sarapan untuk 30 orang lebih. Saat para tamu telah keluar dan mengembalikan kunci kamar, dia pun dengan segera merapikan ranjang, membersihkan kamar-kamar tamu. Dalam waktu dua minggu dia telah menguasai pekerjaannya, setahun kemudian pasangan suami istri tersebut mengambil alih tugas pengelolaan penginapan.

Demi membantu Xiao Tao bisa beradaptasi dengan lingkungan Taiwan secara lebih cepat, pada hari ketiga setelah Xiao Tao tiba di Taiwan, ibu mertua mendaftarkannya ke sekolah dasar di malam hari. Xiao Tao yang memiliki tingkat kemampuan belajar yang sangat tinggi bisa berkomunikasi dengan orang-orang Taiwan setelah tiga bulan bersekolah. Ibu mertuanya kemudian juga membawanya ke Pusat Layanan Keluarga Imigran Baru, memulai dunianya sebagai tenaga sukarela dalam melayani teman-teman sesama imigran baru, melakukan penerjemahan. Xiao Tao kini menjadi seorang pembicara di pusat layanan tersebut, serta juga merupakan penerjemah bahasa Vietnam di puskesmas dan pengadilan negeri Hualien.

※Impian menjadi tenaga sosial dan pemandu wisata
“Sangat sering merindukan keluarga di kampung halaman saat baru datang ke Taiwan, kemudian menelepon dan berbincang dengan orang tua; mertua dan suami sering mengajaknya untuk bersepeda bersama-sama dan berjalan-jalan ke tepi pantai. Bukan merupakan hal yang mudah untuk beradaptasi di lingkungan yang baru, ada kalanya menangis, butuh waktu agar bisa beradaptasi secara perlahan.”

Di awal-awal tahun, Xiao Tao merasakan adanya prasangka bias dari orang Taiwan secara umum terhadap pasangan asing, menganggap bahwa menikah dan datang ke Taiwan hanya demi uang semata, dia juga menerima ucapan diskriminatif waktu menerima telepon pemesanan kamar. Saat bertugas sebagai relawan di Pusat Layanan Keluarga Pasangan Asing, dia sering berhadapan dengan teman-teman pasangan asing yang dianggap sebagai petugas kebersihan, penjaga orang tua, bahkan mendapat tindak kekerasan dalam rumah tangga, hal tersebut membuatnya ketakutan untuk berinteraksi dengan orang Taiwan.

Pada suatu hari di tengah malam sekitar jam 1 atau jam 2, Xiao Tao menerima telepon dari Yang Huamei, dulunya merupakan seorang kepala pimpinan di Pusat Layanan Keluarga Pasangan Asing, beliau meminta bantuan agar Xiao Tao datang ke kantor polisi untuk membantu dan menjadi seorang penerjemah bagi seorang imigran baru yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga, ayah mertuanya dengan segera mengantarkan Xiao Tao yang sedang menggendong putranya yang masih berusia sekitar dua, tiga bulan untuk menangani kasus tersebut. Setibanya di lokasi, ternyata imigran baru tersebut berkewarganegaraan Indonesia, bukan Vietnam, tetapi dia sangat tersentuh hatinya, dia merasa bahwa orang Taiwan pun sangat memperhatikan rekan-rekan dari negaranya, dia juga ingin berusaha berbuat lebih banyak lagi bagi saudara-saudaranya yang merupakan imigran baru. Oleh karena itu, dia memperdalam ilmu di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Hualien Pendidikan Bisnis (National Hualien Commercial High School), dan berharap bisa meneruskan pendidikan ke tingkat universitas, memperoleh gelar sarjana dari jurusan pekerjaan sosial.

小陶3

※Di mana ada keluarga di situlah rumah berada
Rumah baru Xiao Tao yang juga merupakan sebuah penginapan selesai dibangun pada bulan September 2017, di lantai 1 ada kedai kopi. Melalui perencanaan yang matang, dia belajar cara membuat kopi Vietnam, roti Vietnam, mihun Vietnam yang benar-benar khas, berharap suatu hari nanti bisa membuka restoran, dia memakai pakaian tradisional Vietnam yang sangat dia sukai setiap hari dan melayani para tamu, membuat tamu-tamu tersebut semakin mengenal Vietnam.

Dia telah datang dan tinggal di Taiwan selama delapan tahun, namun hanya pernah pulang ke kampung halaman di Vietnam sebanyak 4 kali saja, dua kali diantaranya dikarenakan dia sangat ingin makan masakan Vietnam di masa kehamilannya. Meski di Taiwan air bersih tersedia hanya dengan membuka kran air, listrik tersedia hanya dengan menekan saklar listrik, akan tetapi dia selalu saja terbayang-bayang dengan masa kecilnya di Vietnam, di mana dia harus minum air hujan ketika haus, hari-hari dilalui dengan penerangan yang hanya bersumber pada bintang-bintang di langit, ada sebuah perasaan untuk selalu merasa dicukupkan “hari ini bisa makan kenyang sudah merasa puas, masalah hari esok biarlah dipikirkan besok”.

小陶4

Dalam proses melayani sesama rekan imigran baru, selama beberapa kali dia pun terjebak dalam kesedihan, amarah, maupun kondisi tidak berdaya. Ibu mertuanya memberikan semangat, bahwa melalui pariwisata pemahaman antar dua negara, Taiwan dan Vietnam, bisa semakin ditingkatkan, oleh karena itu dengan antusias dia mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian sertifikasi. Saat ini dia masih merupakan warga negara Vietnam, bersiap sedia agar bisa pulang ke Vietnam sewaktu-waktu untuk merawat kedua orang tuanya yang sudah sepuh, dan juga membuat perjanjian dengan suaminya, agar bisa tinggal di dua tempat secara bergantian setelah pensiun nanti.

Sejak anak-anaknya masih kecil, Xiao Tao telah membiarkan mereka mengenal kebudayaan Vietnam dalam kehidupan sehari-hari. Di saat putri tertuanya bersekolah di taman kanak-kanak, pada suatu hari dengan suara dan nada yang penuh kebanggaan, percaya diri, tanpa keraguan si putri memberitahu gurunya di dalam kelas bahwa “Saya orang Vietnam”, membuatnya menjadi sangat terharu.

Xiao Tao percaya, di mana ada keluarga di situlah rumah berada. Dia memiliki harapan bahwa saat anak-anaknya tumbuh dewasa nanti, mereka bisa dengan percaya diri merasa bahwa mereka adalah orang Taiwan dan juga orang Vietnam.

Sumber artikel: Smile Taiwan (Tulisan: Chiang Pei-chin / Gambar: Lin Ching-yi)

Apakah informasi ini bermanfaat? Ya    Tidak